Salah satu makhluk menakjubkan yang diciptakan Allah adalah sejenis kodok yang hidup di hutan-hutan perawan. Ciri paling menarik dari kodok pohon kecil, yang mempunyai kaki-kaki kecil dan selaput di antara jemarinya, adalah bahwa ia dapat menggunakan kaki-kakinya untuk terbang dengan meluncur di udara. Ketika kodok kecil ini terbang dari pohon ke pohon, ia menggunakan kaki-kakinya seperti parasut ketika hendak melunakkan pendaratannya. Dengan membuka selaput di antara jemarinya, kodok menggandakan wilayah permukaan tubuhnya. Kodok terbang dapat melayang di udara sejauh lebih dari 40 kaki (12 meter), sebelum mendarat di sebuah pohon. Dengan menggerakkan kaki-kakinya dan mengubah bentuk kaki yang berselaput, mereka bahkan dapat mengendalikan arah terbangnya.
Cerita : Ahmad dan Kodok Hijau
Label: Cerita Pendek | author: Sutrisno sekayuPada akhir pekan, Ahmad pergi memancing di sebuah danau bersama Ayahnya. Ketika Ayahnya menyiapkan joran-joran pancing, Ahmad meminta izin untuk menjelajahi kawasan sekitarnya. Ayah mengizinkan, asalkan Ahmad tidak pergi terlalu jauh.
Ahmad mulai berjalan di antara kabut di tepi danau. Seekor kodok tiba-tiba melompat di antara dua semak dan mendarat di atas batu tepat di depannya.
“Kamu hampir saja menginjakku!” si kodok mengeluh.
“Maaf,” ujar Ahmad. “Warnaiiiiimu persis seperti dedaunan, sampai-sampai aku tidak melihatmu, kodok kecil. Namaku Ahmad, dan aku sedang berjalan-jalan di sini.”
Kodok itu tersenyum: “Senang sekali bertemu denganmu, Ahmad. Wajar saja kalau kamu tidak melihatku. Aku hidup di antara semak-semak ini, dan warnaku senada dengan warna dedaunan. Dengan cara itu, musuh-musuhku tidak dapat melihatku, seperti kamu. Aku dapat bersembunyi dari mereka dengan mudah.”
Ahmad berpikir sejenak. “Ya, tapi bagaimana kalau mereka melihatmu? Lalu, apa yang kamu lakukan?”
“Kalau kamu perhatikan dengan teliti,” kata kodok itu, sambil mengangkat sebelah kakinya, “Kamu akan melihat selaput di antara jari-jariku. Ketika aku melompat, kubuka semua jariku. Dengan cara itu, aku dapat melayang di udara. Kadang-kadang aku bisa terbang sampai 40 kaki (12 meter) dalam sekali lompatan.”
“Lalu, bagaimana ketika kamu ingin mendarat?” Ahmad berpikir.
“Kugunakan kaki-kakiku ketika ku terbang. Kugunakan selaput kakiku seperti parasut untuk melambatkan kecepatan badanku saat mendarat,” kodok itu menjelaskan.
“Wah, itu sangat menarik,” Ahmad merenung. “Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan kalau kodok bisa terbang.”
Kodok itu menyeringai. “Beberapa spesies kodok dapat terbang sejauh mereka dapat berenang. Inilah rahmat yang diberikan Allah pada kami. Allah menciptakan warna-warna kami sedemikian rupa untuk menyamarkan kami dalam lingkungan tempat tinggal kami. Hal itu memungkinkan kami untuk bertahan hidup. Jika Allah tidak menciptakan kami seperti ini, dengan segera kami akan terbunuh oleh binatang-binatang lain.”
Ahmad melihat maknanya. “Selaput di antara jari-jarimu penting bagimu agar bisa melompat dalam jarak yang jauh. Aku tidak punya selaput di kakiku karena aku tidak memerlukannya. Kebutuhan setiap makhluk hidup berbeda-beda, bukankah begitu?”
“Ya, kamu benar. Kamu menyatakannya dengan baik.”
Ahmad menjawab, “Allah menciptakan kita dengan cara terbaik untuk memudahkan hidup kita. Kita semestinya bersyukur padaNya karena itu.”
“Benar, benar sekali, Ahmad,” temannya setuju. “Tuhan kita menciptakan semua makhluk hidup sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup. Ia memberikan kita apapun yang kita perlukan ketika kita dilahirkan.”
“Ya,” kata Ahmad. “Sekarang, kodok kecil, aku harus pergi. Kalau tidak, Ayahku akan mengira sesuatu terjadi padaku. Senang sekali berbincang-bincang denganmu. Jika di lain waktu aku datang ke sini, aku akan kembali mengunjungimu.”
“Aku akan menantimu. Senang juga bertemu denganmu. Selamat tinggal, Ahmad ...” kodok itu berkuak sambil melompat kembali ke dalam semak, dan menghilang dari pandangan Ahmad.
Cerita : Faruk dan Rayap
Label: Cerita Pendek | author: Sutrisno sekayuHari Minggu yang cerah. Faruk bepergian ke hutan untuk berpiknik dengan guru dan teman-teman sekelasnya. Setibanya di sana, mereka mulai bermain petak umpet.
Tiba-tiba, Faruk mendengar sebuah suara menjerit, “Hati-hati!” Faruk mulai melihat ke kanan dan ke kiri, tak pasti darimana suara itu berasal. Namun, tak seorangpun di sana. Kemudian, didengarnya suara yang sama. Kali ini, suara itu berkata, “Aku ada di bawah sini!” Tepat di sebelah kakinya, Faruk melihat seekor serangga yang tampak mirip sekali dengan semut.
“Kamu siapa?” tanya Faruk.
“Aku adalah seekor rayap,” makhluk mungil itu menjawab.
“Aku tidak pernah mendengar makhluk yang bernama rayap,” ledek Faruk. “Kamu tinggal sendiri?”
“Tidak,” jawab serangga itu, “Kami tinggal di sarang-sarang dalam kelompok-kelompok besar. Kalau kamu mau, aku akan memperlihatkan salah satu padamu.”
Faruk setuju, dan mereka berjalan. Ketika mereka tiba, apa yang diperlihatkan rayap pada Faruk tampak seperti sebuah bangunan tinggi tanpa jendela.
“Apa ini?” Faruk ingin tahu.
“Inilah rumah kami,” rayap itu menjelaskan.”Kami membangunnya sendiri.”
“Tapi, kamu begitu kecil,” bantah Faruk. “Kalau teman-temanmu ukurannya juga sama denganmu, bagaimana mungkin kalian bisa membuat sesuatu yang begitu besar seperti ini?”
Rayap tersenyum. “Kamu memang pantas terkejut, Faruk. Makhluk kecil seperti kami mampu membuat tempat-tempat seperti ini benar-benar mengejutkan. Tapi jangan lupa, semua ini gampang saja untuk Allah, Pencipta kita semua.”
“Lebih dari itu, selain sangat tinggi, rumah-rumah kami memiliki keistimewaan-keistimewaan lain. Misalnya, kami membuat ruang-ruang khusus untuk anak-anak, tempat-tempat untuk menumbuhkan jamur, dan kamar tempat ratu bertahta di rumah-rumah kami. Kami tidak lupa membuat sebuah sistem pertukaran hawa untuk rumah kami. Dengan cara itu, kami dapat menyeimbangkan kelembapan dan suhu di dalam ruangan. Dan, sebelum aku lupa, biarkan aku memberitahu hal-hal lain, Faruq. Kami ini tidak bisa melihat!”
Faruq sangat takjub. “Meskipun kamu begitu kecil sampai-sampai sulit terlihat, kamu bisa membuat rumah-rumah persis seperti gedung-gedung tinggi yang dibuat manusia. Bagaimana kalian melakukan ini semua?”
Rayap itu lagi-lagi tersenyum. “Seperti kukatakan sebelumnya, Allah-lah yang memberi kami semua bakat-bakat luarbiasa ini. Ia menciptakan kami sedemikian rupa hingga kami mampu melakukan hal-hal semacam ini. Tapi Faruq, sekarang aku harus pulang ke rumah dan membantu teman-temanku.”
Faruq memahami. “Oke, aku sendiri ingin pergi dan memberitahu orangtua serta teman-temanku tentang apa yang telah kupelajari darimu barusan.”
“Gagasan yang bagus, Faruk,” Rayap melambaikan tangan. “Jaga dirimu. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Cerpen : Saudaraku Musuhku
Label: Cerita Pendek | author: Sutrisno sekayuDisebuah sekolah ada dua orang gadis yang wajahnya sangat mirip, tetapi dari kedua gadis tersebut mempunyai sifat yang sangat berbeda, mereka tinggal di rumah hanya mereka berdua dan di temani oleh seorang pembantunya. Nama mereka adalah Shinta dan Cinta. Shinta adalah kakaknya Cinta, dia mempunyai sifat yang sangat jahat sedangkan Cinta mempunyai sifat yang sangat baik seperti malaikat.
Pada suatu hari sekolah mereka kedatangan siswa baru yang pindahan dari luar negeri namanya Marcell. Bel pun berbunyi. Ibu Rini pun masuk ke kelas.
Ibu Rini : Selamat pagi anak-anak!
Siswa : Selamat pagi bu…!!(Serentak)
Ibu Rini : Hari ini alian akan kedatangan teman baru.
Siswa : Siapa bu….?
(ibu Rini memanggil Marcell)
Ibu Rini : Marcell silakan masuk
Marcell : Ya bu…!
Ibu Rini : Sekarang kamu perkenalkan diri kamu.
Marcell : Baik bu,
Marcell pun memperkenalkan dirinya.
Marcell : Perkenalkan nama saya Marcell Aditia Putra.
Ibu Rini : Ya sudah sekarang kamu duduk di bangku yang kosong itu.
Marcell : Ya bu,,,
Bel istirahat pun berbunyi, cintapun menghampiri Marcell yang duduk di samping Cinta, mengapa semenjak Marcell masuk ke sekolah Cinta hati Cinta berdebar-debar?
Cinta : Hai,,,boleh kenalan nggak? (Dengan ramah)
Marcell : Boleh, nama gue Marcell (Dengan sangat halus)
Cinta : Nama gue Cinta
Marcell : Eeh cin gue boleh minta tolong nggak, lo mau nggak nemenin gue keliling sekolah ini?
Cinta : Dengan senang hati.
Merka berdua pun keluar dari kelasnya, semenjak mereka keluar dari kelas sahabat shinta pun mendekati shinta.
Aurell : Eeh shin tumben lo nggak ngajakin Marcell kenalan?
Shinta : Nggak ah males lagian marcell itu nggak ganteng pula kok!
Laura : Emangnya lo nggak marah apa kalau si cinta dekat sama marcell.
Shinta : Untuk apa gue marah, kalo sih cinta itu dekat sama orang yang gue cinta dan tajir itu baru gue marah, kalo sama sih marcell untuk apa gue marah paling-paling marcell itu orang miskin.
Laura : Iih,,,siapa marcell itu sangat ganteng dan tajir pula, lo aja yang nggak ngeliat dari tadi.
Shinta : Masa’?
Aurell : Iya shin makanya lo itu ngeliat tempat lain jangan ngeliat foto-foto mantan-mantan lo itu.
Shinta : Ya uda ayo kita jenguk mereka.
Laura : Sekarang.
Shinta : Nggak tahun depan, ya sekarang dasar begok.
Shinta, aurell, dan laura pun bergegas-gegas untuk ketempat Cinta dan marcell yang sekarang ada dikantin.
Shinta : Hallo, marcell kenalin nama gue Shinta.
Marcell : Nama gue marcell, lo kok wajah kalian mirip?
Shinta : ya sih,,, kita berdua saudara kembar tapi sifat kita nggak sama kok!
Bel masuk pun berbunyi,
Marcell : Eeh uda bell, ayo cin kita ke kelas yuk!
Shinta : Cell lo ke kelas barengan gue aja.
Marcell : Tapi cinta gimana? Cintakan tadi barenga sama gue.
Shinta : Nggak kok cinta bisa ke kelas bareng aurel dan laura, ya kan cinta,,,!
Cinta : iya,,,iya.
Shinta dengan marcell pun masuk ke kelas, di kelas marcell ngobrol sama cinta dan shinta pun mendekati mereka berdua.
Marcell : Cin lo tinggalnya dimana biar gue bisa main kerumah lo.
Cinta : Gue tinggal di
Shinta : Jln. Semangka Blok A No. 12 (shinta memotong pembicaraan cinta)
Cinta : ya kita tinggal di sana.
Shinta : Eh cin coba lo pidah de kebelakang gue mau duduk disini.
Cinta : Ya,,,
Ibu Rini pun masuk ke kelas.
Ibu Rini : Selamat siang anak-anak
Siswa : Siang bu,,,
Ibu rini pun menjelaskan pelajaran dengan baik hingga bel pulang pun berbunyi.
Marcell : Cin lo bareng sama gue aja ya.
Cinta : Baiklah dengan senang hati.
Merka pun membuka pintu depan untuk cinta, tapi shinta lebih dulu masuk di depan.
Marcell : cin ayo masuk.
Cinta : iya,,,
Shinta : Tapi kayaknya gue yang duduk di depan.
Cinta : Ya sudah cell biar kak shinta yang duduk didepan biar gue duduk di belakang.
Shinta : Bagus.
Marcell : Tapi lo nggak apa-apakan. Ya sudah kalau begitu kita berangkat.
Mereka bertiga ngobrol-ngobrol.
Shinta : Eeh cell, lo mau nggak kalo ntar malam kita makan berdua.
Marcell : Tapi cinta juga ikutkan, kalo cinta nggak ikut gue juga nggak.
Shinta : Ya sudah cinta ikut (Dengan malas)
Malampun tiba mereka bertiga pergi untuk makan malam. Tiba direstoran marcell ngobrol dengan cinta, shinta yang tidak pernah di anggap merasa cemburu lalu shinta ingin menjebak cinta. Dia pun memanggil polisi bahwa ada yang membawa Narkoba ke lestoran tersebut. Tiba polisi di sana semua orang di periksa lalu shinta pun meletaki narkoba kedalam tas cinta. Lalu polisi menemukan narkoba di dalam tas cinta dan cinta pun di bawa ke kantor polisi untuk di periksa.
Marcell dan shinta mengejar mobil polisi yang membawa cinta. Tiba di kantor polisi.
Shinta : Tu kan cell, apa kamu masih suka sama cinta.
Marcell : Aku tetap suka sama cinta, aku juga nggak percaya kalo narkoba itu punya cinta.
Shinta : Udah jelas-jelaskan kalau narkoba itu ada di dalam tasnya cinta. Marcell kamu nggak tau kalau aku itu suka sama kamu.
Marcell : Ma’af shin aku nggak suka sama kamu karena aku sudah terlanjur suka sama cinta.
Shinta : Ya sudah aku ngerelain kamu bersama cinta.
Lalu shintapun mengaku kalau dialah yang meletakkan narkoba itu ke dalam tasnya cinta dan cintapun dibebaskan merekapun menjadi saudara yang saling menyayangi.